Rabu, 13 Agustus 2008

orang karo

. Daerah orang Karo itu memang lebih luas dari batas batas kabupaten yang digariskan oleh pemerintah di jaman Belanda dan pemerintah Indonesia sekarang. Batas batas yang diciptakan oleh pemerintah pemerintah itu hanya berlatar-belakangkan pertimbangan administrasi, politik, keamananan serta ekonomi belaka. Fakta menunjukkan bahwa banyak orang Karo yang hidup dan tinggal didaerah daerah Kabupaten Dairi, Simalungun, Deli Serdang, Langkat, dan kabupaten kabupaten lainnya disekitar kota Medan sejak dahulu kala. Orang Karo yang tinggal di kabupaten kabupaten sekitar kota Medan oleh orang Karo dikenal sebagai orang Karojahe.

Istilah Karojahe mempunyai makna yang tersendiri. Orang orang Karojahe tinggal diluar daerah Kabupaten Karo sekarang. Pada umumnya mereka tinggal didaerah daerah kabupaten sekitar kota Medan. Tapi yang membuat mereka disebut Karojahe adalah karena seringkali mereka mereka ini telah dipengaruhi oleh kehidupan dan kebudayaan non-Karo. Mereka tidak bisa berbahasa Karo dengan baik. Mereka tidak menggunakan adat Karo yang semestinya dalam bertutur kata dan bergaul sesama orang Karo. Pada umumnya orang Karojahe tidak banyak menerapkan adat istiadat Karo. Mereka ini tidak dapat dipersalahkan. Keadaan ini terjadi karena mereka terdesak oleh pengaruh kebudayaan kebudayaan baru yang dibawa oleh para pendatang kedaerah mereka.

Penulis pernah bekerja menggali pasir di daerah Patumbak (1980), kira kira 15 km dari kota Medan yang termasuk Kabupaten Deli Serdang. Kami diantara pekerja sering bercakap cakap tentang banyak hal. Dari percakapan percakapan penulis dengan beberapa warga setempat penulis sempat tercengang mendengar keterangan mereka. Mengetahui penulis berasal dari orang Karo, mereka mengatakan bahwa sebenarnya mereka juga keturunan orang Karo. Ketika penulis menanyakan marga, seorang diantaranya berkata: " Kalau tidak salah, Barus " jawabnya. Alangkah ironisnya. Begitu dahsyatnya pengaruh kebudayaan luar itu sampai sampai marga sendiripun bisa lupa. Karena tinggal disekitar orang orang pendatang yang berbahasa lain, lambat laun mereka melupakan marga dan bahasa daerah asli mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka bukan pendatang didaerah tersebut. Mereka juga mengakui bahwa begitu banyak orang orang pendatang yang berdatangan kedaerah mereka untuk tingal dan menetap disitu.

Sewaktu penulis masih duduk dibangku sekolah di Sidikalang dan Kabanjahe, penulis mengetahui bahwa banyak anggota Kodim Sidikalang dan Kodim Tanah Karo mempunyai marga Karo tapi jarang malah tidak bisa berbahasa Karo samasekali. Banyak pula mereka itu berasal dari Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Binjai dan sekitarnya. Seorang bekas petinggi militer di Sidikalang yang bermarga Ginting hanya bisa berbahasa Karo sepenggal sepenggal. Anak seorang anggota CPM Kodim Sidikalang yang kebetulan teman sekolah penulis di Sidikalang tidak bisa berbahasa Karo samasekali. Kedua orang tua teman saya itu adalah orang Karo. Mereka berasal dari Kabupaten Deli Serdang. Karena masih kecil, penulis tidak bisa mengerti mengapa dia tidak bisa samasekali. Penulis juga berbahasa Melayu kalau diluar rumah, tapi saya banyak mendengar bahasa Karo dirumah dan mampu bekomunikasi seadanya dalam bahasa Karo. Tapi sekarang saya bisa mengerti bahwa banyak orang orang Karojahe itu yang tidak bisa berbahasa Karo sama sekali.

Menanggapi tulisan Sdr. Hendra Sembiring, penulis ingin menyampaikan sedikit pendapat bahwa orang Karo adalah penduduk asli daerah sepanjang Bukit Barisan Pulau Sumatera dan daerah daerah sekitar pegunungan Sumatera Utara dan Aceh. Keberadaan suku Karo terlepas dari adanya orang orang Karo yang bermarga Sembiring dengan submarga bernuansa India. Sebaliknya, keberadaan orang Karo bermarga Sembiring dengan latar belakang unsur unsur dari India (bila terbukti dan diterima secara umum), membuktikan bahwa adat istiadat Karo itu telah begitu tua dan berakar kuat dimasyarakat Karo sejak dahulu kala sehingga orang orang pendatang baru, dengan catatan berteknologi lebih tinggi karena mampu mengharungi lautan luas, harus dengan rela mengakui dan mengadaptasi adat dan tradisi itu demi suatu kehidupan yang harmonis dengan orang orang asli setempat.

Saya sependapat dengan tulisan tulisan yang dibaca oleh saudara Hendra Sembiring yang diantaranya bahwa banyak orang Karo bermarga Sembiring memiliki ciri tubuh yang sama dengan orang orang India. Ini mungkin terjadi karena memang mereka merupakan keturunan imigran dari India yang tinggal didaerah tersebut diatas. Oleh karena tuntutan adat-istiadat dan tradisi, mereka dinaturalisasi menjadi masyarakat Karo dengan marga Sembiring dan nama nama daerah asal mereka di India diambil sebagai submarga.

Bila dikemudian hari kelak kita dapat membuktikan bahwa ada orang Karo bermarga Sembiring yang leluhurnya berasal dari India, tidak berarti bahwa orang orang Karo lainnya juga berasal dari India. Orang Karo lainnya tetap merupakan orang Karo sebagai penduduk asli (indegenous)pegunungan pegunungan Sumatera Utara dan Aceh sekarang. Orang Karo asli akan masih mengakui marga Sembiring sebagai bagian dari orang Karo seperti yang telah mereka lakukan turun temurun. Marga Sembiring adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Karo. Karena sudah dapat dipastikan para imigran dari India itu banyak memiliki keturunan yang dilahirkan oleh wanita wanita Karo setempat. Keturunan mereka itu adalah orang Karo juga adanya.

Suatu bangsa tidak bisa menjadi besar bila masih terdapat perbedaan pendapat, kesalah-pahaman, dan perseteruan diantara penduduk bangsa tersebut. Orang Indian di Amerika tidak mampu bertahan dan hidup sebagai bangsa yang bersatu karena perang suku yang berkelanjutan. Contoh lainnya, sebelum menjadi bangsa yang paling berjaya di permukaan bumi ini, bangsa Amerika harus mengalami perang saudara (civil war) yang begitu memilukan dimana ratusan ribu orang Amerika tewas dalam peperangan ini. Orang orang Amerika dari Utara dan Selatan saling melenyapkan karena perbedaan pendapat tentang perbudakan orang orang hitam di bagian Selatan benua Amerika.

Penulis tidak hendak menyamakan kenyataan diatas dengan perbedaan marga Sembiring dan marga Karo lainnya dimana peperangan merupakan salah satu penyelesaiannya. Tidak samasekali. Tapi untuk menjadi besar dan bersatu perbedaan pendapat diantara orang Karo itu harus dihilangkan. Penulis berpendapat bahwa dalam kasus merga Sembiring ini, tugas dan tanggung jawab moral terbesar bertumpu pada orang orang marga Sembiring untuk menyelidiki kebenaran yang mengatakan bahwa marga Sembiring itu berasal dari India. Mereka harus mampu mengajukan suatu pernyataan dimana mereka dapat menjelaskan siapa mereka sebenarnya. Mereka harus bisa mengambil suatu keputusan: apakah mereka masih rela menjadi orang Karo bila ternyata memang leluhur mereka berasal dari India. Suatu tantangan yang berat bagi orang orang marga Sembiring. Penulis yakin bahwa banyak orang marga Sembiring yang mampu menjawab tantangan diatas secara jujur dan bertanggung jawab.

Sekedar masukan bagi marga Sembiring, saudara Hendra Sembiring memperoleh informasi bahwa kampung Seberaya, kecamatan Tigapanah dahulu kala pernah menjadi pusat kebudayaan Hindu. Kalau kita menilik lebih jauh pengaruh sebuah idiologi, agama, atau kebudayaan yang disebarkan diluar daerah dimana idiologi, agama dan kebudayaan itu dilahirkan maka kita bisa melihat suatu kecenderungan bagi daerah yang terkena pengaruh itu untuk memakai simbol simbol, atribut, istilah atau nama nama yang berlatar-belakangkan asal usul tradisi dan kebudayaan baru itu.

Ambil contoh nama seseorang di Philipina, Fernandez, sebuah nama yang populer di Spanyol. Dia bukan keturunan Spanyol samasekali. Tapi karena pengaruh kebudayaan Spanyol di Philipina sangat kuat, maka jadilah dia bernama Fernandez. Amir, yang berarti Pemimpin Masyarakat di Timur Tengah menjadi nama seorang tetangga saya di Medan karena pengaruh kebudayaan Timur Tengah begitu kuat di keluarga tetangga saya ini.

Mungkinkah penomena diatas melanda marga Sembiring di Seberaya dijaman kerajaan Hindu ketika itu ? Karena mereka bagitu mengagungkan kebudayaan Hindu maka sebagian dari mereka memakai nama nama daerah India dibelakang merga Sembiring mereka. Karena begitu besarnya pengaruh kebudayaan Hindu itu dikalangan orang orang marga Sembiring dijaman itu maka merekapun mengkultuskan nama nama daerah India sebagai submarga. Janganlah heran kalau hal itu dilakukan oleh marga Sembiring karena pada umumnya orang Karo mempunyai kebiasaan kebiasaan seperti itu dalam hal pemberian nama. Coba simak nama nama ini: Motor Tarigan, Senjata Karo Karo, Nasib Ginting, Mangsi Ginting, Buku Kaban dst..dst.

Sebuah kebudayaan baru harus diajarkan kepada penerimanya oleh guru guru yang ahli dibidangnya. Kebudayaan Hindu diajarkan di Seberaya oleh sebagian guru guru yang berasal dari India tentunya. Karena lama tinggal di Seberaya, mereka menikahi wanita wanita setempat. Oleh karena pengaruh guru guru ini, sebagian orang marga Sembiring menambahkan nama nama daerah India dibelakang nama marga mereka tapi mereka bukan keturunan India. Sebagian memang mungkin keturunan guru guru ahli kebudayaan Hindu itu.

Penulis berpendapat bahwa hypotesis diatas mengandung kebenaran dengan alasan alasan diantaranya bahwa tidak semua orang marga Sembiring berciri tubuh orang India. Seorang kawan sekolah penulis di Berastagi, Bantu Sembiring Pandia yang berasal dari Seberaya berpostur lebih mirip orang Vietnam ketimbang orang India. Lihatlah disekitar anda apakah semua marga Sembiring bertampang bintang film Bollywood, India ? Tidak bukan ?. Jadi tidak logislah adanya kalau kita memperkirakan bahwa semua marga Sembiring dengan submarga India mempunyai pertalian darah dengan orang orang India.

Adanya keturunan ahli ahli kebudayaan Hindu dari India di Indonesia pada umumnya dan di masyarakat Karo khususnya bukan merupakan suatu kejutan. Banyak orang Bali perpostur tubuh lebih mirip dengan orang India ketimbang orang Melayu yang cenderung berhidung pesek, klimis tak bercambang dan tak berkumis lebat seperti banyak orang Bali. Mereka memang keturunan ahli ahli kebudayaan Hindu yang bekerja di kerajaan kerajaan Jawa Hindu. Leluhur mereka melarikan diri kepulau Bali karena terdesak oleh kerajaan kerajaan Jawa lainnya. Di Bali mereka menetap dan mempunyai banyak keturunan dari wanita wanita setempat. Jumlah keturunan guru guru kebudayaan Hindu di daerah Karo tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan jumlah keturunan guru guru kebudayaan Hindu di Bali karena pulau Bali memang merupakan pusat agama Hindu di Indonesia. Sudah barang tentu jumlah mereka cukup besar disana. Jadi masuk akalah kiranya kalau sebagian orang marga Sembiring mempunyai leluhur yang berasal dari India.

Suatu hal lagi yang ingin penulis sampaikan kepada orang Karo, ahli ahli antrophology, para peneliti kebudayaan dan sejarahwan dimanapun anda berada: Berhentilah berpolemik, berdebat dan bersilang pendapat tentang asal usul orang Karo itu. Mencari asal usul orang Karo sama dengan mencari yang tidak ada; ndarami silalit kata orang Karo. Sampai kapanpun tidak akan ditemui. Mencari asal usul orang Karo sama saja dengan mencari asal usul orang Jawa, Afrika, Cina, Eropah, Arab dlsb yang telah tinggal didaerahnya masing masing sepanjang zaman seiring dengan perubahan dan pergolakan yang dialami oleh bumi ini. Paling tidak, mari kita sepakat mengatakan bahwa orang Karo adalah penduduk asli daerah daerah tersebut diatas sampai pembuktian yang dapat membuktikan sebaliknya dapat dipertunjukkan.

Terimakasih dan maaf bila ada hal hal yang tidak berkenan dihati anda tentang tulisan ini.



Oleh: Mangsi Gintings

479 MARGA BATAK

"Salah satu versi ada yang menyebutkan 479 marga Batak. Dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak Karya besar : Alm. H.B. situmorang BPK Gunung Mulia, Jakarta - 1983
A.
1. AMBARITA 2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA) 3. AMPUN (NAHAMPUNGAN) 4. ANGKAT 5. ANGKAT SINGKAPAL 6. ARITONANG 7. ARUAN
B.
8. BABIAT 9. BAHO (NAIBAHO) 10. BAKO 11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)
12. BANJARNAHOR (MARBUN) 13. BANCIN 14. BAKKARA 15. BARINGBING (TAMPUBOLON) 16. BARUARA (TAMBUNAN) 17. BARUTU (SITUMORANG) 18. BARUTU (SINAGA) 19. BATUARA (NAINGGOLAN) 20. BATUBARA 21. BERASA 22. BARAMPU 23. BARINGIN 24. BINJORI 25. BINTANG 26. BOANGMANALU 27. BOLIALA 28. BONDAR 29. BORBOR 30. BUATON 31. BUNUREA (BANUAREA) 32. BUNJORI 33. BUTARBUTAR
D.
34. DABUTAR (SIDABUTAR ?) 35. DAIRI (SIMANULLANG) 36. DAIRI (SINAMBELA) 37. DALIMUNTA (MUNTE ?) 38. DAPARI 39. DAULAE 40. DEBATARAJA (SIMAMORA) 41. DEBATARAJA (RAMBE) 42. DOLOKSARIBU 43. DONGORAN 44. DOSI (PARDOSI)
G.
45. GAJAA 46. GAJADIRI 47. GAJAMANIK 48. GIRSANG 49. GORAT 50. GULTOM 51. GURNING 52. GUSAR
H.
53. HABEAHAN 54. HARAHAP 55. HARIANJA 56. HARO 57. HAROHARO 58. HASIBUAN 59. HASUGIAN 60. HUTABALIAN 61. HUTABARAT 62. HUTAJULU 63. HUTAGALUNG 64. HUTAGAOL (LONTUNG) 65. HUTAGAOL (SUMBA) 66. HUTAHAEAN 67. HUTAPEA 68. HUTASOIT 69. HUTASUHUT 70. HUTATORUAN 71. HUTAURUK
K.
72. KASOGIHAN 73. KUDADIRI
L.
74. LAMBE 75. LIMBONG 76. LINGGA 77. LONTUNG 78. LUBIS 79. LUBIS HATONOPAN 80. LUBIS SINGASORO 81. LUMBANBATU 82. LUMBANDOLOK 83. LUMBANGAOL (MARBUN) 84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN) 85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG) 86. LUMBANPANDE (SITUMORANG) 87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN) 88. LUMBANPEA (TAMBUNAN) 89. LUMBANRAJA 90. LUMBAN SIANTAR 91. LUMBANTOBING 92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO) 93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING) 94. LUMBANTUNGKUP
M.
95. MAHA 96. MAHABUNGA 97. MAHARAJA 98. MALAU 99. MALIAM 100. MANALU (TOGA SIMAMORA) 101. MANALU-RAMBE 102. MANALU (BOANG) 103. MANIK 104. MANIK URUK 105. MANURUNG 106. MARBUN 107. MARBUN SEHUN 108. MARDOSI 109. MARPAUNG 110. MARTUMPU 111. MATANIARI 112. MATONDANG 113. MEHA 114. MEKAMEKA 115. MISMIS 116. MUKUR 117. MUNGKUR 118. MUNTE (NAIMUNTE ?)
N.
119. NABABAN 120. NABUNGKE 121. NADAPDAP 122. NADEAK 123. NAHAMPUN 124. NAHULAE 125. NAIBAHO 126. NAIBORHU 127. NAIMUNTE 128. NAIPOSPOS 129. NAINGGOLAN 130. NAPITU 131. NAPITUPULU 132. NASUTION 133. NASUTION BOTOTAN 134. NASUTION LONCAT 135. NASUTION TANGGA AMBENG 136. NASUTION SIMANGGINTIR 137. NASUTION MANGGIS 138. NASUTION JORING
O.
139. OMPUSUNGGU 140. OMPU MANUNGKOLLANGIT
P. 141. PADANG (SITUMORANG0 142. PADANG (BATANGHARI0 143. PANGARAJI (TAMBUNAN) 144. PAKPAHAN 145. PAMAN 146. PANDEURUK 147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE 148. PANDIANGAN SITANGGUBANG 149. PANDIANAGN SITURANGKE 150. PANJAITAN 151. PANE 152. PANGARIBUAN 153. PANGGABEAN 154. PANGKAR 155. PAPAGA 156. PARAPAT 157. PARDABUAN 158. PARDEDE 159. PARDOSI-DAIRI 160. PARDOSI (SIAGIAN) 161. PARHUSIP 162. PASARIBU 163. PASE 164. PASI 165. PINAYUNGAN 166. PINARIK 167. PINTUBATU 168. POHAN 169. PORTI 170. POSPOS 171. PULUNGAN 172. PURBA (TOGA SIMAMORA) 173. PURBA (RAMBE) 174. PUSUK
R.
175. RAJAGUKGUK 176. RAMBE-PURBA 177. RAMBE-MANALU 178. RAMBE-DEBATARAJA 179. RANGKUTI-DANO 180. RANGKUTI-PANE 181. REA 182. RIMOBUNGA 183. RITONGA 184. RUMAHOMBAR 185. RUMAHORBO 186. RUMAPEA 187. RUMASINGAP 188. RUMASONDI
S.
189. SAGALA 190. SAGALA-BANGUNREA 191. SAGALA-HUTABAGAS 192. SAGALA HUTAURAT 193. SAING 194. SAMBO 195. SAMOSIR 196. SAPA 197. SARAGI (SAMOSIR) 198. SARAGIH (SIMALUNGUN) 199. SARAAN (SERAAN) 200. SARUKSUK 201. SARUMPAET 202. SEUN (SEHUN) 203. SIADARI 204. SIAGIAN (SIREGAR) 205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA) 206. SIAHAAN (NAINGGOLAN) 207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL) 208. SIAHAAN HINALANG 209. SIAHAAN BALIGE 210. SIAHAAN LUMBANGORAT 211. SIAHAAN TARABUNGA 212. SIAHAAN SIBUNTUON 213. SIALLAGAN 214. SIAMPAPAGA 215. SIANIPAR 216. SIANTURI 217. SIBANGEBENGE 218. SIBARANI 219. SIBARINGBING 220. SIBORO 221. SIBORUTOROP 222. SIBUEA 223. SIBURIAN 224. SIDABALOK 225. SIDABANG 226. SINABANG 227. SIDEBANG 228. SIDABARIBA 229. SINABARIBA 230. SIDABUNGKE 231. SIDABUTAR (SARAGI) 232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN) 233. SIDAHAPINTU 234. SIDARI 235. SIDAURUK 236. SIJABAT 237. SIGALINGGING 238. SIGIRO 239. SIHALOHO 240. SIHITE 241. SIHOMBING 242. SIHOTANG 243. SIKETANG 244. SIJABAT 245. SILABAN 246. SILAE 247. SILAEN 248. SILALAHI 249. SILALI 250. SILEANG 251. SILITONGA 252. SILO 253. SIMAIBANG 254. SIMALANGO 255. SIMAMORA 256. SIMANDALAHI 257. SIMANJORANG 258. SIMANJUNTAK 259. SIMANGUNSONG 260. SIMANIHURUK 261. SIMANULLANG 262. SIMANUNGKALIT 263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR) 264. SIMAREMARE 265. SIMARGOLANG 266. SIMARMATA 267. SIMARSOIT 268. SIMATUPANG 269. SIMBIRING-MEHA 270. SEMBIRING-MELIALA 271. SIMBOLON 272. SINABANG 273. SINABARIBA 274. SINAGA 275. SIBAGARIANG 276. SINAMBELA-HUMBANG 277. SINAMBELA DAIRI 278. SINAMO 279. SINGKAPAL 280. SINURAT 281. SIPAHUTAR 282. SIPAYUNG 283. SIPANGKAR 284. SIPANGPANG 285. SIPARDABUAN 286. SIRAIT 287. SIRANDOS 288. SIREGAR 289. SIRINGKIRON 290. SIRINGORINGO 291. SIRUMAPEA 292. SIRUMASONDI 293. SITANGGANG 294. SITANGGUBANG 295. SITARIHORAN 296. SITINDAON 297. SITINJAK 298. SITIO 299. SITOGATOROP 300. SITOHANG URUK 301. SITOHANG TONGATONGA 302. SITOHANG TORUAN 303. SITOMPUL 304. SITORANG (SITUMORANG) 305. SITORBANDOLOK 306. SITORUS 307. SITUMEANG 308. SITUMORANG-LUMBANPANDE 309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR 310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO 312. SITUMORANG-SITOGANG URUK 313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA 314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN 315. SITUNGKIR 316. SITURANGKE 317. SOBU 318. SOLIA 319. SOLIN 320. SORGANIMUSU 321. SORMIN 322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG 323. SUHUTNIHUTA-SINAGA 324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN 325. SUMBA 326. SUNGE 327. SUNGGU
T.
328. TAMBA 329. TAMBAK 330. TAMBUNAN BARUARA 331. TAMBUNAN LUMBANGAOL 332. TAMBUNAN LUMPANPEA 333. TAMBUNAN PAGARAJI 334. TAMBUNAN SUNGE 335. TAMPUBOLON 336. TAMPUBOLON BARIMBING 337. TAMPUBOLON SILAEN 338. TAKKAR 339. TANJUNG 340. TARIHORAN 341. TENDANG 342. TINAMBUNAN 343. TINENDUNG 344. TOGATOROP 345. TOMOK 346. TORBANDOLOK 347. TUMANGGOR 348. TURNIP 349. TURUTAN Tj ( C). 350. TJAPA (CAPA) 351. TJAMBO (CAMBO) 352. TJIBERO (CIBERO)
U.
353. UJUNG-RIMOBUNGA 354. UJUNG-SARIBU KAROKARO 355. KAROKARO BARUS 356. KAROKARO BUKIT 357. KAROKARO GURUSINGA 358. KAROKARO JUNG 359. KAROKARO KALOKO 360. KAROKARO KACARIBU 361. KAR0KARO KESOGIHAN 362. KAROKARO KETAREN 363. KAROKARO KODADIRI 364. KAROKARO PURBA 365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya) 366. KAROKARO SEKALI 367. KAROKARO SIKEMIT 368. KAROKARO SINABULAN 369. KAROKARO SINUAJI 370. KAROKARO SINUKABAN 371. KAROKARO SINULINGGA 372. KAROKARO SIMURA 373. KAROKARO SITEPU 374. KAROKARO SURBAKTI TARIGAN 375. TARIGAN BANDANG 376. TARIGAN GANAGANA 377. TARIGAN GERNENG 378. TARIGAN GIRSANG 379. TARIGAN JAMPANG 380. TARIGAN PURBA 381. TARIGAN SILANGIT 382. TARIGAN TAMBAK 383. TARIGAN TAMBUN 384. TARIGAN TAGUR 385. TARIGAN TUA 386. TARIGAN CIBERO PERANGINANGIN 387. PERANGINANGIN-BENJERANG 388. PERANGINANGIN BANGUN 389. PERANGINANGIN KABAK 390. PERANGINANGIN KACINABU 391. PERANGINANGIN KELIAT 392. PERANGINANGIN LAKSA 393. PERANGINANGIN MANO 394. PERANGINANGIN NAMOHAJI 395. PERANGINANGIN PANGGARUN 396. PERANGINANGIN PENCAWAN 397. PERANGINANGIN PARBESI 398. PERANGINANGIN PERASIH 399. PERANGINANGIN PINEM 400. PERANGINANGIN SINUBAYANG 401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM 402. PERANGINANGIN SINURAT 403. PERANGINANGIN SUKATENDE 404. PERANGINANGIN ULUJANDI 405. PERANGINANGIN UWIR GINTING 406. GINTING BAHO 407. GINTING BERAS 408. GINTING GURUPATIH 409. GINTING JADIBATA 410. GINTING JAWAK 411. GINTING MANIK 412. GINTING MUNTE 413. GINTING PASE 414. GINTING SIGARAMATA 415. GINTING SARAGIH 416. GINTING SINUSINGAN 417. GINTING SUGIHEN 418. GINTING SINUSUKA 419. GINTING TUMANGGER 420. GINTING CAPA SEMBIRING 421. SEMBIRING-BRAHMANA 422. SEMBIRING BUNUHAJI 423. SEMBIRING BUSUK (PU) 424. SEMBIRING DEPARI 425. SEMBIRING GALUK 426. SEMBIRING GURU KINAYA 427. SEMBIRING KELING 428. SEMBIRING KALOKO 429. SEMBIRING KEMBAREN 430. SEMBIRING MELIALA 431. SEMBIRING MUHAM 432. SEMBIRING PANDEBAYANG 433. SEMBIRING PANDIA 434. SEMBIRING PELAWI 435. SEMBIRING SINULAKI 436. SEMBIRING SINUPAYUNG 437. SEMBIRING SINUKAPAR 438. SEMBIRING TAKANG 439. SEMBIRING SOLIA MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK SINAGA 440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN 441. SINAGA NADIHAYANGBODAT 442. SINAGA SIDABARIBA 443. SINAGA SIDAGURGUR 444. SINAGA SIDAHAPINTU 445. SINAGA SIDAHASUHUT 446. SINAGA SIALLAGAN 447. SINAGA PORTI DAMANIK 448. DAMANIK-AMBARITA 449. DAMANIK BARIBA 450. DAMANIK GURNING 451. DAMANIK MALAU 452. DAMANIK TOMOK SARAGI 453. SARAGIH-DJAWAK 454. SARAGIH DAMUNTE 455. SARAGIH DASALAK 456. SARAGIH GARINGGING 457. SARAGIH SIMARMATA 458. SARAGIH SITANGGANG 459. SARAGIH SUMBAYAK 460. SARAGIH TURNIP PURBA 461. PURBA BAWANG 462. PURBA DAGAMBIR 463. PURBA DASUHA 464. PURBA GIRSANG 465. PURBA PAKPAK 466. PUBA SIIDADOLOK 467. PURBA TAMBAK HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK 468. BARAT ( SIAN HUTABARAT) 469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING) 470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL) 471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL) 472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL) 473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN 474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING) 475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU 476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti] 477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK) 478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL) 479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing) -------
Seperti dikemukakan di awal, ini adalah salah satu versi tentang Marga-marga Batak. Yang mana tulisan ini juga mengacu pada Buku: PUSTAHA BATAK : Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak karya besar : W. M. Hutagalung. CV Tulus Jaya, 1991"

aksara karo

Aksara Karo ini adalah aksara kuno yang dipergunakan oleh masyarakat Karo, akan tetapi pada saat ini penggunaannya sangat terbatas sekali bahkan hampir tidak pernah digunakan lagi.

aksara-karo.gif

GBKP. HKBP, GKPS

Sejarah Berdirinya GBKP

Permulaan usaha perkabaran Injil ke daerah Karo bukan munculnya karena tugas rohani. Usaha itu dimulai oleh karena permohonan J.T. Craemers, seorang pemimipin perkebunan di Sumatera Timur. Beliau berpendapat bahwa jalan jalan yang paling baik supaya penduduk asli daerah itu jangan menentang dan mengganggu usaha -usaha perkebunan ialah dengan mengabarkan injil dan mengkristenkan mereka. Dengan meyakinkan Maskapai Perkebunan terhadap pendapatnya , Craemers meminta kepada Nederlandsch Zending Genootschap (NZG) untuk membuka penginjilan di daerah Sumatera Timur, dengan biaya yang dibebankan kepada maskapai-maskapai. Permintaan itu diterima oleh NJG dan dilaksanakan dari tahun 1890 sampai tahun 1930.

Sejarah HKBP

HKBP sebagai salah satu gereja dengan jemaat terbesar di Asia dan merupakan wadah persekutuan umat Kristen dari suku Batak yang memiliki dinamika di dalam sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Dengan berakhirnya krisis HKBP dan penyatuan kembali jemaatnya kiranya dapat menjadi pemacu untuk pelaksanaan pelayanan dan pekabaran Injil bersama-sama dengan jemaat Tuhan lainnya, agar semua suku, kaum dan bangsa yang berada di wilayah Indonesia dan di seluruh dunia mendapat baptisan di dalam nama

Sejarah berdirinya GKPS

Adapun Simalungun adalah suku Batak dari kelima Batak yang ada di Sumatera Utara . Simalungun artinya “sunyi” nama itu di berikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya “BALUNGU” sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah Timur mereka.

Sari Matua, Saur Matua, Mauli Bulung di Tengah Masyarakat Batak

Berbicara tentang Sari Matua, Saur Matua dan Mauli Bulung adalah berbicara tentangkematian seseoang dalam konteks adat Batak. Adalah aksioma, semua orang harus mati, dan hal itu dibenarkan oleh semua agama. Bukankah pada Kidung Jemaat 334 disebut: “Tiap orang harus mati, bagai rumput yang kering. Makhluk hidup harus busuk, agar lahir yang baru. Tubuh ini akan musnah, agar hidup disembuhkan. di akhirat bangkitlah, masuk sorga yang megah.”
Selain yang disebutkan diatas, masih ada jenis kematian lain seperti “Martilaha” (anak yang belum berumah tangga meninggal dunia), “Mate Mangkar” (yang meninggal suami atau isteri, tetapi belum berketurunan), “Matipul Ulu” (suami atau isteri meninggal dunia dengan anak yang masih kecil-kecil), “Matompas Tataring” (isteri meninggal lebih dahulu juga meninggalkan anak yang masih kecil). Sari matua Tokoh adat yang dihubungi Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Constan Pardede, RPS Janter Aruan SH membuat defenisi : “Sari Matua adalah seseorang yang meninggal dunia apakah suami atau isteri yang sudah bercucu baik dari anak laki-laki atau putri atau keduanya, tetapi masih ada di antara anak-anaknya yang belum kawin (hot ripe).

Mengacu kepada defenisi diatas, seseorang tidak bisa dinobatkan (dialihkan statusnya dari Sari Matua ke Saur Matua. Namun dalam prakteknya, ketika hasuhuton “marpangidoan” (bermohon) kepada dongan sahuta, tulang, hula-hula dan semua yang berhadir pada acara ria raja atau pangarapotan, agar yang meninggal Sari Matua itu ditolopi (disetujui) menjadi Saur Matua.
Sering hasuhuton beralasan, “benar masih ada anak kami yang belum hot ripe (kawin), tetapi ditinjau dari segi usia sudah sepantasnya berumah tangga, apalagi anak-anak kami ini sudah bekerja dan sebenarnya, anak kami inilah yang membelanjai orang tua kami yang tengah terbaring di rumah duka. “Semoga dengan acara adat ini mereka secepatnya menemukan jodoh (asa tumibu dapotan sirongkap ni tondi, manghirap sian nadao, manjou sian najonok). Status Sari Matua dinaikkan setingkat menjadi Saur Matua seperti ini ditemukan pada beberapa acara adat.
Tokoh adat diatas berkomentar, permintaan hasuhuton itu sudah memplesetkan nilai adat yang diciptakan leluhur. Pengertian Sari Matua, orang itu meninggal, sebelum tugasnya sebagai orang tua belum tuntas yakni mengawinkan anak-anaknya. Tidak diukur dari segi umur, pangkat, jabatan dan kekayaan.
Mereka memprediksi, terjadinya peralihan status, didorong oleh umpasa yang disalah tafsirkan yakni: “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua husuhuton do pandapotan.” (semua tergantung suhut). Umpasa ini sasarannya adalah untuk “sibuaton” (parjuhutna-boan), karena bisa saja permintaan hadirin parjuhutna diusulkan lombu sitio-tio atau horbo, tetapi karena kurang mampu, hasuhuton menyembelih simarmiak-miak (B2), atau sebaliknya jika mampu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon lombu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon horbo. Faktor lain ujar mereka, adanya “ambisi” pihak keluarga mengejar cita-cita orang Batak yakni hamoraon, hagabeon, hasangapon. Selanjutnya, dongan sahuta, terkesan “tanggap mida bohi”, karena mungkin pihak hasuhuton orang “terpandang”.
Sebenarnya, untuk meredam “ambisi” hasuhuton, senjata pamungkas berada ditangan Dongan Sahuta. Benar ada umpasa yang mengatakan : “Tinallik landurung bontar gotana, sisada sitaonon dohot las ni roha do namardongan sahuta, nang pe asing-asing margana.” Tetapi bukankah ada umpasa yang paling mengena: “Tinallik bulu duri, sajongkal dua jari, dongan sahuta do raja panuturi dohot pengajari.” Mereka harus menjelaskan dampak negatif dari peralihan status Sari Matua ke Saur Matua berkenaan dengan anak-anak almarhum yang belum hot ripe. Artinya, jika kelak dikemudian hari, anak tersebut resmi kawin, karena dulu sudah dianggap kawin, tentu dongan sahuta tidak ikut campur tangan dalam seluruh kegiatan/proses perkawinan. Barangkali, bila hal itu diutarakan, mungkin pihak hasuhuton akan berpikir dua kali, sekaligus hal ini mengembalikan citra adat leluhur.
Selanjutnya, ada pula berstatus “Mate Mangkar” berubah menjadi Sari Matua, karena diantara anaknya sudah ada yang berumah tangga namun belum dikaruniai cucu. Hasuhuton beralasan, parumaen (menantu) sudah mengandung (“manggora pamuro”). Hebatnya lagi, parjuhutna (boan) sigagat duhut (bukan simarmiak-miak merhuling-hulinghon horbo).
Saya kurang setuju menerima adat yang demikian”, ujar Ev H Simanjuntak. Lahir dulu, baru kita sebut Si Unsok atau Si Butet, kalau orang yang meninggal tadi dari Mate Mangkar menjadi Sari Matua, lalu ompu si apa kita sebut? Ompu Sipaimaon?”, katanya memprotes. Kalau hanya mengharapkan manjalo tangiang menjadi partangiangan, kenapa kita sungkan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita, sambungnya. Soal boan sigagat duhut, menurut Simanjuntak, hal itu sudah melampaui ambang batas normal adat Batak. Seharusnya simarmiak-miak, karena kerbau adalah ternak yang paling tinggi dalam adat Batak, tegasnya.

Ulos tujung dan sampe tua
Ulos tujung, adalah ulos yang ditujungkan (ditaruh diatas kepala) kepada mereka yang menghabaluhon (suami atau isteri yang ditinggalkan almarhum). Jika yang meninggal adalah suami, maka penerima tujung adalah isteri yang diberikan hula-hulanya. Sebaliknya jika yang meninggal adalah isteri, penerima tujung adalah suami yang diberikan tulangnya.
Tujung diberikan kepada perempuan balu atau pria duda karena “mate mangkar” atau Sari Matua, sebagai simbol duka cita dan jenis ulos itu adalah sibolang.
Dahulu, tujung itu tetap dipakai kemana saja pergi selama hari berkabung yang biasanya seminggu dan sesudahnya baru dilaksanakan “ungkap tujung” (melepas ulos dari kepala). Tetapi sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, sebab tujung tersebut langsung diungkap (dibuka) oleh tulang ataupun hula-hula sepulang dari kuburan (udean). Secara ratio, yang terakhir ini lebih tepat, sebab kedukaan itu akan lebih cepat sirna, dan suami atau isteri yang ditinggal almarhum dalam waktu relatif singkat sudah dapat kembali beraktifitas mencari nafkah. Jika tujung masih melekat di kepala, kemungkinan yang bersangkutan larut dalam duka (margudompong) yang eksesnya bisa negatif yakni semakin jauh dari Tuhan atau pesimis bahkan apatis.
Ulos Sampe Tua, adalah ulos yang diberikan kepada suami atau isteri almarhum yang sudah Saur Matua, tetapi tidak ditujungkan diatas kepala, melainkan diuloskan ke bahu oleh pihak hula-hula ataupun tulang. Jenis ulos dimaksud juga bernama Sibolang. Ulos Sampe Tua bermakna Sampe (sampailah) tua (ketuaan-berumur panjang dan diberkati Tuhan).
Akhir-akhir ini pada acara adat Sari Matua, sering terlihat ulos yang seharusnya adalah tujung, berobah menjadi ulos sampe tua. Alasannya cukup sederhana, karena suami atau isteri yang ditinggal sudah kurang pantas menerima tujung, karena faktor usia dan agar keluarga yang ditinggalkan beroleh tua.
Konsekwensi penerima ulos Sampe Tua adalah suami ataupun isteri tidak boleh kawin lagi. Seandainya pesan yang tersirat pada ulos Sampe Tua ini dilanggar, kawin lagi dan punya anak kecil lalu meninggal, ulos apa pula namanya. Tokoh adat Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Raja Partahi Sumurung Janter Aruan SH dan Constant Pardede berpendapat sebaiknya ulos yang diberikan adalah tujung, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi kedepan. Toh tujung itu langsung dibuka sepulang dari kuburan, ujar mereka.

SAUR MATUA
Seseorang disebut Saur Matua, ketika meninggal dunia dalam posisi “Titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru”. Tetapi sebagai umat beragama, hagabeon seperti diuraikan diatas, belum tentu dimiliki seseorang. Artinya seseorang juga berstatus saur matua seandainya anaknya hanya laki-laki atau hanya perempuan, namun sudah semuanya hot ripe dan punya cucu.
Khusus tentang parjuhutna, Ev H Simanjuntak bersama rekannya senada mengatakan, yang cocok kepada ina adalah lombu sitio-tio atau kalau harus horbo, namanya diperhalus dengan sebutan “lombu sitio-tio marhuling-hulinghon horbo”. Sebab kelak jika bapak yang meninggal, “boan”-nya adalah horbo (sigagat duhut).
Diminta tanggapannya apakah keharusan boan dari mereka yang Saur Matua lombu sitio-tio atau sigagat duhut, tokoh adat ini menjelaskan, hal itu relatif tergantung kemampuan hasuhuton, bisa saja simarmiak-miak. Disinilah pemakaian umpasa “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua hasuhuton do pandapotan”. Kalangan hula-hula, terutama dongan sahuta harus memaklumi kondisi dari hasuhuton agar benar-benar “tinallik landorung bontar gotana, sada sitaonon do na mardongan sahuta nang pe pulik-pulik margana”. Jangan terjadi seperti cerita di Toba, akibat termakan adat akhirnya mereka lari malam (bungkas) kata mereka.
Masih seputar Saur Matua khususnya kepada kaum bapak, predikat isteri tercinta, kawin lagi dan punya keturunan. Kelak jika bapak tersebut meninggal dunia, lalu anak yang ditinggalkan berstatus lajang, sesuai dengan defenisi yang dikemukakan diawal tulisan ini, sang bapak menjadi Sari Matua.

Mauli Bulung
Mauli Bulung, adalah seseorang yang meninggal dunia dalam posisi titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat tu namar-nini, sahat tu namar-nono dan kemungkinan ke “marondok-ondok” yang selama hayatnya, tak seorangpun dari antara keturunannya yang meninggal dunia (manjoloi) (Seseorang yang beranak pinak, bercucu, bercicit mungkin hingga ke buyut).
Dapat diprediksi, umur yang Mauli Bulung sudah sangat panjang, barangkali 90 tahun keatas, ditinjau dari segi generasi. Mereka yang memperoleh predikat mauli bulung sekarang ini sangat langka.
Dalam tradisi adat Batak, mayat orang yang sudah Mauli Bulung di peti mayat dibaringkan lurus dengan kedua tangan sejajar dengan badan (tidak dilipat).

Kematian seseorang dengan status mauli bulung, menurut adat Batak adalah kebahagiaan tersendiri bagi keturunannya. Tidak ada lagi isak tangis. Mereka boleh bersyukur dan bersuka cita, berpesta tetapi bukan hura-hura, memukul godang ogung sabangunan, musik tiup, menari, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Kasih lagi Penyayang
.

Oleh Bulman Harianja BA, Wartawan SIB

filsofi tungku masak

Dari tempat memasak ini ternyata banyak sekali muncul filosofi kebudayaan Karo. Setiap tungku terdapat lima batu yang dibentuk empat batu berbentuk segi empat dan satu batu lagi diletakkan di tengah, sehingga secara bersamaan bisa diletakkan dua periuk.

Lima batu ini melambangkan lima merga (marga) di Karo, yaitu Ginting, Sembiring, Tarigan, Karo-karo dan Perangin-angin. Sekali memasak digunakan tiga batu, yang menandakan jabatan anggota keluarga yang terbagi menjadi tiga (rakutna telu), yaitu kalingbubu, anak beru dan simbuyak.

Di atas tungku perapian terdapat para, yang terdiri dari lima lapis, yaitu masing-masing lapis secara berurut untuk tempat menyimpan ranting (kayu) api, periuk dan alat-alat memasak, bumbu dan bahan masakan, serta lapisan teratas tempat menyimpan padi.

Karena tinggal dalam satu atap, maka pewarisan budaya dan tata krama kepada generasi muda pada saat itu lebih cepat dan seragam. Ada sembilan perilaku yang sangat dilarang keras dilakukan oleh generasi muda, karena melanggaran kesopanan dan budaya Karo. Aturan ini masih dijalankan hingga sekarang.

Perilaku yang dilarang itu adalah sumbang perkundul (cara duduk yang tidak sopan), sumbang pengerana (cara berbicara yang tidak sopan/kasar), sumbang pengenen (cara melihat yang tidak baik), sumbang perpan (cara makan yang tidak sopan), dan sumbang perdalan (cara berjalan yang tidak baik).

Perilaku lain yang dilarang yaitu sumbang pendahin (pekerjaan yang dibenci orang), sumbang perukuren (cara berpikir yang jelek), sumbang peridi (cara mandi yang dilarang oleh adat istiadat) dan sumbang perpedem (cara tidur yang tidak baik).

Besarnya minat wisatawan mancanegara melihat keunikan rumah siwaluh jabu membuat Pemda Karo menetapkan beberapa desa di Tanah Karo menjadi desa budaya, selain beberapa desa lainnya, Dokan, Serdang, Barusjahe dan Peceren.

Simardan - Durhaka Kepada Orang Tua, Berubah Wujud Menjadi Pulau

Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas. Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan. Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.

Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.

Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli

Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai. Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red). Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli. Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun

Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga. Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.

“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu

Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung. Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.

Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.” Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal

Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.

Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.

Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung. “Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”